Tidak. Tidak ada yang spesial dengan tanggal ini.
Ini cuma saya. Saya yang sama seperti di sebuah malam sekitar dua bulan yang lalu, yang juga duduk di
table ini.
Oh. Tapi tidak. Tidak seperti yang ada di foto ini. Malam itu, gelas
caramel macchiato saya berdiri bersebelahan dengan gelas
iced caffee mocha miliknya.
Tidak seperti malam ini.. Saat itu, di sini, kami saling berdiam. Saya belajar untuk ujian.. dan dia mengerjakan tugas kuliahnya. Lucu. Kami autis. Berjam-jam.
Saat itu, walau di
ambience yang miskin kata, dalam rasa yang tak terbahasakan, saya sadar betul saya bahagia.
Dimana sesekali tertangkap di sorot matanya, binar yang berkata betapa dia bahagia saya ini miliknya.
Such a compassion in his eyes.
Sinar mata yang saya tahu tidak bisa bohong.
Dimana sesekali rangkulnya, berucap bahwa dia bangga saya adalah perhiasannya.
Malam ini, saya memberanikan diri menghirup secercah bayangnya.
Yah.. mungkin hanya untuk sepersekian detik. Karena saya tahu, akan sakit rasanya.
Teringat bisik pertanyaan darinya malam itu, tentang definisi
cylinder cell cast dan obat anti-tuberculosis. Yang tidak bisa saya jawab. Bodoh dan bodoh. Kami tertawa.
Dan di pojok ruangan kafe ini, sekarang. Seberkas rasa memerihkan.
Rasa yang menamparkan sosoknya kembali di sebelah saya.
Di sofa abu-abu yang sekarang dingin karena kosong.
Rindu akan hangat auranya yang sederhana.
Yang seperti itu. Cukup yang seperti itu. Tidak lebih.
Dalam keheningan yang menyamankan.
Dan bukan sisi jiwanya yang lain.
Sisi yang temaram, yang sungguh tak ingin saya ingat.
Dan selalu saya pilih untuk tidak saya kenal.
Hell yeah. Cukup.
Sudah saatnya saya sapu lamunan saya.
Mata ini bergulir menatap pojok kanan bawah monitor laptop.
Hampir setengah sepuluh... dan
paper cup green tea latte saya sudah tinggal seperempat isinya.
Belum terlalu larut.
Tapi saya tahu. Saya lebih baik pulang.
If you still remember this place, lds