Sial. Lagi-lagi saya sontak terbangun. Dan yang pasti akan terjaga untuk waktu yang lama. Rasa kantuk menjadi begitu mahal harganya. Sudah tak terhitung ini hari ke berapa.
Siluman itu bernama Kekecewaan. Dia mampu merasuk, membangunkan tanpa suara. Dan tampaknya begitu senang menabur mimpi buruk di tengah tidur saya. Membawakan sekelebat ingatan tentang luka yang memang belum kering. Memprovokasi alam pikir dengan cerita sakit hati.
Mencoba bangkit dan melangkah. Namun ambrug kembali keesokannya. Begitulah saya setiap hari.
Dan sekarang. Saya masih merasa luar biasa... rapuh.
Image courtesy of Oleg Breslavtsev

No comments:
Post a Comment